Oleh: jajakakelana | 7 April 2009

Yesus Mati Jam 3 Kurang Seperempat

PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Otis Putra Begawan
Seorang Pendeta duduk manis bersama seorang haji yang kedua-duanya  akrab  salaing tegur sapa dengan mesranya. Tiba-tiba pembicaraan mereka mengarah ke agama masing-masing… Percakapan mreka sebagai berikut …

Yesus mati Jam 3 kura ng seperempat

Seorang Pendeta duduk manis bersama seorang haji yang kedua-duanya  akrab  salaing tegur sapa dengan mesranya. Tiba-tiba pembicaraan mereka mengarah ke agama masing-masing… Percakapan mreka sebagai berikut …

Haji                    : Pak Pendeta Yesus mati jam berapa?

Pendeta              : Dengan mantapnya menjawab jam 3 pak…Demikian kata Firman Tuhan

Haji                   :  Salah Pak Peneta, Anda tidak melihat contoh yang diberikan Yesus…

Pendeta             :   Contoh Gimana, jelas-jelas Alkitab mengatakan Yesus mati jam 3 dengan

bangganya sang Pendeta mengutip bagian Alkitab

LUK 23:44-46      Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan  meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga,  sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah  dua.   Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam  tanganMu Kuserahkan nyawaKu.: Dan sesudah berkata demikian Ia   menyerahkan nyawaNya.

Haji                         : Salah Pendeta …

Pendeta                   : Mulai curiga dan berkata jadi jam berapa?

Haji                          : Jam 3 kurang seperempat

Pendeta                   : Koq bisa?

Haji                          : Jelas donk waktu YEsus mati di salib kan tanganNya

menunjukkan jam 3 kurang seperempat

coba kalau jam 3 pasti tangan sebelahnya keatas

Pendeta                   : Waktu di Golgota Tuhan Yesus tidak sedang

menunjukkan sandi mors,  emange Pramuka?
tidak sopan !

Oleh: jajakakelana | 7 April 2009

KOTBAH TENTANG DOSA KEBOHONGAN

Pengkhotbah memberitahu pada jemaatnya, “Minggu depan saya merencanakan untuk berkhotbah tentang dosa kebohongan. Untuk membantu Anda memahaminya, saya ingin Anda semua membaca Markus pasal 17.” Pada Minggu berikutnya, ketika bersiap menyampaikan khotbahnya, ia berkata, “Saya ingin tahu berapa banyak di antara Anda telah membaca Markus 17.” Semua orang mengacungkan jarinya. Pengkhotbah itu tersenyum dan berkata, “Markus hanya memiliki 16 pasal. Sekarang saya akan memulai khotbah saya tentang dosa kebohongan.” BUKANNYA TAK TERTARIK Selesai kebaktian seorang wanita dengan tersipu-sipu menghadap pendeta, “Pak pendeta, saya mohon maaf karena ketika tadi bapak berkhotbah, suami saya telah berjalan keluar. Saya harap bapak tidak beranggapan dia tak tertarik pada khotbah bapak, tetapi ia memang suka berjalan kalau sedang tidur.” IMAN SELALU MENOLONG Seorang guru sekolah minggu yang masih baru berusaha membuka lemari yang berisi perlengkapan mengajar. Ia sudah diberitahu nomor kombinasi untuk lemari itu, tetapi ia lupa. Akhirnya ia pergi ke kamar kerja pendeta untuk minta tolong. Pendeta itu datang ke ruang perlengkapan dan mencoba memutar nomor kombinasi. Setelah memutar dua nomor pertama pendeta tampak ragu-ragu. Akhirnya ia menengadah ke atas dan dengan khidmat mulutnya mengucapkan sesuatu. Kemudian ia kembali melihat ke kunci kombinasi dan tanpa ragu-ragu ia memutar nomor kombinasi dan membuka kuncinya. Guru sekolah minggu itu sangat takjub, “Saya sangat mengagumi iman Anda pak.” “Sebenarnya bukan apa-apa,” jawab pendeta itu, “Nomor itu saya tempel di langit-langit.” PENDETA GUGUP Seorang pendeta muda yang gugup karena masih baru di gereja itu, dalam khotbahnya mengatakan, “Dan mereka pun memberi makan pada lima orang dengan lima ribu roti dan dua ribu ikan.” Seorang anggota jemaat menggumam, “Tak ada yang aneh, saya pun bisa.” Menyadari kesalahannya, pada Minggu berikutnya pendeta itu mengulangi lagi kata-katanya, kali ini dengan benar, “Dan mereka pun memberi makan pada lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.” Dengan tersenyum pendeta itu bertanya, “Pak, apakah Anda bisa melakukannya?” “Tentu saja saya bisa.” jawab yang ditanya. “Bagaimana Anda melakukannya?” “Dari yang tersisa Minggu yang lalu.” BEDA PERSPEKTIF Seorang laki-laki berkesempatan berbicara dengan Tuhan. “Tuhan,” katanya, “seberapa lamakah sejuta tahun itu?” Tuhan menjawab, “BagiKu hanya semenit.” Laki-laki itu bertanya, “Tuhan, seberapa besarkah sejuta dolar itu?” Tuhan menjawab, “BagiKu hanya satu sen.” Laki-laki itu bertanya, “Tuhan, bolehkah aku meminta satu sen?” Tuhan menjawab, “Tentu! Tunggu semenit lagi.” PELAJARAN MORAL Seorang ibu sedang menyiapkan pancake untuk anak-anaknya, Kevin, 5 tahun, dan Ryan, 3 tahun. Kedua anak itu mulai berdebat siapa yang mendapat pancake duluan. Ibu itu melihat kesempatan untuk memberikan pelajaran moral. “Bila Yesus duduk di sini, Ia akan berkata ‘Biarlah saudaraKu mendapat pancake yang pertama, Aku dapat menunggu.” Kevin menoleh ke adiknya dan berkata, “Ryan, jadilah seperti Yesus!!

Oleh: jajakakelana | 7 April 2009

Digendong Oleh Sahabat

Amsal 17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 37; Kisah Para Rasul 9; Keluaran 23-24 Puncak Mordor sudah di depan mata. Namun, beban moril yang harus ditanggungnya selama ini sebagai si Pembawa Cincin, mengakibatkan semangatnya ambruk dan jiwanya letih. Frodo nyaris tak berdaya untuk meneruskan perjalanannya. Untunglah ia selalu didampingi pelayan dan sahabat setia, Sam. Melihat kondisi tuannya, Sam segera menyingsingkan lengan baju. “Aku tak bisa membawakannya untukmu, namun aku bisa membawamu,” cetusnya. Ia pun menggendong Frodo ke puncak Mordor, agar Frodo dapat menunaikan misinya, melemparkan cincin ke kawah gunung maut itu. Frodo dan Sam dari The Lord of The Rings adalah salah satu potret persahabatan terindah yang diangkat ke dalam film. Sam yang penuh pengorbanan, khususnya, mengingatkan berbagai hal yang baik tentang persahabatan. Seorang bijak berkata, “Memiliki sahabat baik adalah salah satu sukacita terbesar dalam hidup ini. Namun, menjadi sahabat yang baik adalah salah satu tugas yang paling mulia dan paling sulit.” Untuk menjadi sahabat, kita harus bersikap tidak egois. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk memiliki sikap seperti Yesus, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Dengan demikian, kita tidak berpikir tentang apa yang dapat kita peroleh, melainkan bagaimana kita dapat melayani sahabat kita melalui hubungan tersebut. Sudahkan Anda menjadi sahabat terbaik bagi orang-orang yang Anda kasihi? Persahabatan terdiri dari telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami, dan tangan yang siap menolong. Sumber : Jawaban.com

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.